Harga Beras Kian Mencekik
Memasuki bulan november seharusnya sudah turun hujan merata. Namun sampai saat ini hujan hanya turun di beberapa tempat di Indonesia. Padahal bulan november adalah masa menanam padi bagi petani. Karena hujan tidak segera turun dan musim kemarau berkepanjangan maka banyak tanaman padi yang tidak mendapatkan pengairan secara optimal. Saluran irigasi yang menghubungkan sawah dengan sungai tidak ada air karena mengering.
Berbeda dengan di Thailand negeri gajah putih sekerang ini justru terkena bencana banjir empat ratus orang telah tewas akibat bencana ini. Dampak bencana ini banyak tanaman padi yang siap panen mati sebab disapu banjir sehingga Thailand untuk saat ini sementara menghentikan import beras. Padahal Thailand adalah salah satu importir beras terbesar ke Indonesia.
Menanggapi hal tersebut Petruk Mentri Pertanian meminta rakyat Indonesia jangan terlalu khawatir akan kejadian ini. Menurut Mentri yang menyukai baju batik  karena beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian timur kini sedang memanen padi. Sementara itu Bagong Ketua Badan Logistik ( Bulog) mengungkapkan adanya kejadian ini tidak akan menaikan harga beras sebagai bahan pokok makan penduduk Indonesia. “ Sebab persediaan beras di Indonesia cukup untuk tujuh bulan mendatang dan kita sekarang ini telah mengimport beras dari Cina dan India untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, “ ujar laki-laki bertubuh besar.
Pendapat yang disampaikan dua pejabat negara itu berbeda dengan kondisi di lapangan. Harga beras di pasaran kini berangsur naik. Beberapa jenis beras mulai naik harganya seperti beras tipe IR 3 semula lima libu enam ratus rupiah kini menjadi lima ribu delapan ratus rupiah naik dua ratus rupiah. Kemudian beras tipe rojo lele semula harganya tujuh ribu lima ratus rupiah kini menjadi delapan ribu rupiah, harganya naik lima ratus.
Ketika dikonfirmasi atas kenaikan harga beras ini ke salah satu distributor beras di Pasar Beringhajo, Gareng sang pemilik toko distributor beras menyebutkan karena minimnya pasokan beras dari swasta dan pemerintah. “ Karena minimnya pasokan beras itulah harga beras terus melejit dan harga itu sudah naik dari suplaiyer. Jadi bukan kita menaikan harga,” tandasnya.
Dampak kenaikan harga beras cukup dirasakan rakyat jelata seperti keluarga Sumarni yang mempunyai anak tiga dan sedang sekolah semua. Apalagi suaminya yang akrab dipanggil Bang Thoyib sudah tidak pulang tiga tahun kerana mencari rizki di Jakarta. Adanya kenaikan harga beras menurut sumarni cukup mencekik keluarganya. “ Keluarga kami hanya makan nasi dua kali tapi mengapa pemerintah tidak peduli,” tuturnya diiringi cucuran air mata.

Jeritan Sumarni Tak Didengar
                Rumah kontrakan yang berukuran  empat kali enam meter, berlantai tanah, berdinding kayu keropos dan beratap genting rusak dihuni empat jiwa itulah rumah Sumarni. Sumarni adalah single parent karena ditinggal suaminya yang akrab Bang Thoyib tiga tahun merantau ke Jakarta untuk mencari rizki. Anak Sumarni tiga orang dan jaraknya berdekatan dua perempuan satu laki-laki
                Anak pertama pertama kini kelas dua sekolah dasar (SD), adek perempuannya kelas satu di SD yang sama yakni di Sekolah Dasar Tukangan. Adapun anak terakhir laki-laki sekarang berusia empat tahun. Demi menghidupi keluarga Sumarni membanting tulang dan memeras keringat. Berbagai pekerjaan dikerjakannya dari pagi hingga malam, antara pukul delapan pagi hingga tiga sore ia menjadi tukang gendong di pasar Beringharjo. Setelah itu pulang dan jam lima sore kembali bekerja menjadi tukang parkir di warung makan lesehan sampai jam sepuluh malam.
                Karena kerjanya sampai malam kadang anak terakhir diajak kerja. Sementara keduanya hanya dirumah untuk belajar namun telah disiapi makan malam. Sementara untuk siang harinya anak yang paling kecil dititipkan ke tetangganya namun tetap diberikan upah semampunya. Itulah keseharian Sumarni hidupnya hanya diabdikan untuk menghidupkan keluarga.
                Hidup dalam kondisi kemiskinan, penghasilan yang didapatkan dari dua tempat kerja sekitar satu juta tiap bulan belum mencukupi kebutuhan. Kerena tingginya kebutuhan kadang harus hutang kanan-kiri kepada siapa yang mau meminjamkan uang.” Jadi hidup saya seperti ini pak harus gali lubang tutup lubang agar tetap bertahan,” tandanya.
                Sumarni-sumarni yang lain tentu masih banyak, apalagi angka kemiskinan di Indonesia yang dirilis Asian Development Bank (ADB) mencapai 43 juta orang. Itulah potret wajah penduduk di Indonesia, pemerintah tidak pecus menangani masalah ini. Mereka justru sibuk dengan kepentingan sendiri, sibuk mempersiapkan pemilu tahun 2014, sibuk memperkaya sendiri, sibuk srobot proyek-proyek yang bernilai milyaran. Di mana hal itu rentan terhadap korupsi dan Nazaruddin contohnya melakukan korupsi dana proyek pembangunan Wisma Atlit untuk Sea Games.
                Sebenarnya masih ada lagi seperti dugaan korupsi di Kementrian Pemuda dan Olahraga, Kementrian Kerja dan Transmigrasi. Namun sayang tidak disentuh pemerintah sama sekali dan justru seperti ada pembiaran.



Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

0 comments:

Post a Comment

MARI BERKOMENTAR DENGAN BIJAK DAN SOPAN, KARENA ITU AKAN MENCERMINKAN SOSOK ORANGNYA

Powered by Blogger.
 
Rumah Baca Gunungkidul © 2013. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Top